Langsung ke konten

Exploring the Plaga Coffee Plantation, Tracing the Origins of Balinese Arabica

Oleh ahsan iqbal 04 Feb 2023

Minggu lalu seorang kawan mengajak untuk berkunjung ke kebun kopi di daerah Plaga. Gimmick di ajakannya: Perkebunan kopi ini lebih dulu ada sebelum [ perkebunan kopi ] di Kintamani. Mendengar pernyataan itu tanpa pikir panjang saya sanggupi ajakannya.

Daerah Plaga menjadi terkenal karena namanya menjadi brand wine lokal. Namun, dalam perjalanan menuju tempat di perbatasan Kabupaten Badung dan Buleleng ini saya sama sekali tidak menemukan perkebunan anggur.

Jalan ke Plaga biasa jadi rute alternatif Danau Batur atau Danau Bedugul menuju karena letaknya yang berada di tengah-tengah. Perjalanan melewati destinasi populer Bali seperti Hutan Kera Sangeh dan Air Terjun Nungnung, juga Jembatan Tukad Bangung yang menghubungkan dua bukit dan konon tertinggi di Asia.

Bertemu keluarga Sudana

Setibanya di perkebunan yang dituju, saya disambut hangat oleh Pak Nyoman Sudana dan istrinya, Ibu Wayan Sari. Di rumah mereka yang sederhana, saya langsung disuguhi kopi hasil dari kebunnya. Meski bukan ahli kopi, saya menemukan rasa yang cukup unik dari kopi tersebut: perpaduan antara aroma buah, gula merah, dan madu.

kopi plaga kebun plaga

Tak berapa lama ia pamit untuk kembali bekerja di kebunnya. Saya yang memang berniat membuat video dokumenter kopi Bali meminta untuk ikut. Ini kesempatan langka, pikirku.

Jangan membayangkan kebun Pak Sudana seperti perkebunan kopi di Brazil atau Kenya yang rapih tertata laiknya perkebunan teh. Kebun kopi di sini tampak seperti padang ilalang di tengah hutan. Kami harus melewati jalan setapak di antara pohon-pohon tinggi. Burung-burung pun bisa naik ke pepohonan hingga ramai berkicau.

kopi plaga memetik kopi

Cara memetik buah kopi

Pak Sudana mengajarkan saya memetik kopi. Untuk mendapatkan rasa kopi yang nikmat maka kita harus mengambil buah yang merah tua saja. Jangan ambil yang kuning apalagi hijau, rasanya belum enak.

Memetik kopi juga harus dengan perasaan, tidak boleh mengecewakan. Kita harus memetiknya satu-satu, supaya buah yang belum matang tidak ikut terambil.

Pohon kopi arabika di kebunnya ini sudah berumur puluhan tahun. Ketika warga di kampungnya silih berganti tebang dan menanam padi, jeruk, dan kopi, Pak Sudana tetap merawat pohon kopinya.

Kecintaannya akan kopi bermula dari kecil ketika bekerja sebagai penjaga sapi milik seorang berkebangsaan Belanda. Seringnya bertemu dan berdiskusi tentang kopi membuat Pak Sudana mengenal dan jatuh cinta pada kopi, hingga akhirnya ia menanam kopi di lahan ayah yang semula sawah. Keputusannya sempat dianggap aneh oleh keluarga yang lebih condong menanam padi dan buah, namun ia tidak peduli.

Ekosistem seimbang

Keheranan saya (Mengapa kebun kopi ini lebih seperti hutan daripada kebun) terjawab ketika Pak Sudana menjelaskan konsep perindang.

Bila pohon kopi mendapat sinar matahari langsung sepanjang hari maka buahnya akan sangat banyak dan panen setiap lima bulan. Dampak negatifnya, umur pohon jadi pendek, maksimal lima belas tahun sudah mati atau tidak lagi berbuah.

Dengan konsep perindang inikebun kopi di antara berbagai pohon-pohon hutanpanen hanya bisa delapan bulan sekali. Positifnya, umur pohon bisa melebihi 50 tahun dan terus berbuah. Kopi yang dihasilkan juga lebih berkualitas dan memiliki rasa yang unik.

Ibu Wayan Sari menambahkan bahwa sebagai petani yang bergantung pada alam mereka harus memiliki berbagai macam tanaman. Mau makan nasi kami tanam padi, mau makan buah tinggal ambil, mau minum kopi, ya, kami panen bijinya, he bahagia.

kopi plaga kopi kering

Pemberdayaan petani

Indonesia punya potensi menjadi penghasil kopi berkualitas terbesar di dunia namun kenapa kita hanya nomor empat dan petaninya tidak sejahtera Ayu, putri dari Pak Nyoman Sudana dan Ibu Wayan Sari menyimpulkan.

Melihat hal tersebut, Ayu Sudana yang sudah 12 tahun bekerja sebagai manajer pemasaran di Dubai kembali ke kampung halamannya untuk memperkenalkan kopi Plaga kepada dunia.

Sekian puluh tahun petani kita tidak sejahtera karena kopi kita harus melewati lapis-lapis tengkulak untuk sampai ke tempat pembuatan bir dan konsumen akhir . Sudah saatnya petani dan konsumen bergerak bersama untuk perdagangan yang lebih adil.

Sekian tahun Pak Nyoman Sudana membentuk Gabungan Kelompok Petani Kopi di Plaga dengan tujuan mengajarkan cara menanam kopi yang baik, organik, berkualitas, dan berkesinambungan. Kecintaannya akan kopi membuat ia selalu bersemangat di usia senja.

Ayu Sudana mendatangkan mesin pemanggang kopi dari Belanda dengan dana sendiri. Tujuannya agar dapat menampung kopi dari petani Plaga dan langsung dapat mengemas dan memasarkannya ke tempat pembuatan bir dan konsumen akhir. Petani bisa mendapatkan harga yang tinggi dan konsumen mendapat kopi berkualitas dari petani.

Sore itu saya kembali disuguhi kopi. Kali ini sedikit berbeda dari yang saya minum sebelumnya. Pada rasa penutup kopi, aroma madu terasa kuat di lidah. Pak Sudana menyimpulkan: kopi enak bukan saja dihasilkan dari tanaman yang unggul tapi juga pengolahan yang tepat.

Saat matahari sudah mulai condong ke barat, saya pamit pulang ke Denpasar. Ayu Sudana memberikan saya oleh-oleh satu bungkus kopi yang saya minum tadi. Supaya kamu selalu ingat kami di sini setiap minum kopi, katanya sambil tertawa.

Seseorang baru saja membeli

Terima kasih sudah berlangganan

Email ini telah terdaftar!

Belanja tampilannya

Pilih opsi

opsi edit
Pemberitahuan Stok Kembali
this is just a warning
Masuk
Gerobak Saya
0 Item